Showing posts with label penyakit. Show all posts
Showing posts with label penyakit. Show all posts

Monday, 1 June 2015

Penyakit ND atau Tetelo



Penyakit ND/Tetelo ditemukan pertama kali oleh Doyle didaerah Newcastle, Inggris dan pada tahun yang sama Kraneveld juga menemukan virus penyakit ini di Bogor. Virus penyakit ND berasal dari family Paramyxoviridae dengan genus Pneumovirus atau Paramyxovirus dimana virus ini dapat menghemaglutinasi darah. Penyakit ini sudah menyebar diseluruh dunia dan menyerang segala jenis unggas termasuk burung liar. Ada beberapa tipe untuk serangan penyakit ini

  1. Tipe yang sangat berbahaya atau disebut Viscerotropic Velogenic Newcastle Disiase (VVND) atau tipe Velogenik. Tipeini menyebabakan kematian luar biasa bahkan sampai 100%.
  2. Tipe yang lebih ringan disebut degan “Mesogenic”. Kematian pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakan gejala seperti gangguan pernapasan dan saraf.
  3. Tipe lemah (lentogenik) merupakan stadium yang hampir tidak menyebabkan kematian. pada ayam petelur dapat menyebabkan produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek. Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan pernapasan.
Penyebaran penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit dan kotorannya, melalui ransum, air minum, kandang, tempat ransum/minum, peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung, serangga, burung liar dan angin/udara (dapat mencapai radius 5 km).

Gejala Penyakit ND
 Gejala klinis yang ditimbulkan penyakit ini adalah
  • bersin-bersin
  • susah bernafas 
  • megap-megap dan ngorok
  • nafsu makan berkurang 
  • sayap terkulai
  • kaki lumpuh
  • jalan mundur (sempoyongan)
  • kotoran encer berwarna putih
  • serta kepala dan leher terpuntir
Untuk lebih meyakinkan bahwa suatu peternakan benar atau tidaknya terserang ND, maka tindakan bedah bangkai adalah jalan terbaik dalam menegakkan diagnosa. Pada kasus ND hasil bedah bangkai berupa gejala khas penyakit ini, yaitu adanya bintik-bintik merah (ptechie) pada proventriculus (kantong depan ampela). Selain itu juga terjadi perubahan pada lapisan usus berupa pendarahan dan kematian jaringan (nekrosa). Pada organ pernafasan akan mengalami eksudasi dan kantong udaranya menipis.

Pencegahan Penyakit ND
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan untuk penyakit  ini, maka dari itu satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan yang bisa dilakukan untuk menanggulangi penyebaran penyakit ini adalah melalui program vaksinasi. Ada dua jenis vaksin yang dapat diberikan yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif berupa vaksin hidup yang telah dilemahkan, diantaranya yang banyak digunakan adalah strain Lentogenic terutama vaksin Hitchner B-1 dan Lasota. Vaksin aktif ini dapat menimbulkan kekebalan dalam kurun waktu yang lama sehingga penggunaan vaksin aktif lebih dianjurkan dibanding vaksin inaktif. 

Program vaksinasi harus dilakukan dengan seksama dan diperhatikan masa kekebalan yang ditimbulkan. Vaksinasi pertama sebaiknya diberikan paling lambat hari ke-empat umur ayam, karena penundaan sampai umur dua minggu dan seterusnya akan menghilangkan kemampuan pembentukan antibodi aktif oleh antibodi induk, sebab pada umur tersebut antibodi induk sudah tidak berfungsi lagi. Program vaksinasi pada ayam pedaging sebaiknya dilakukan pada umur tiga hari dan vaksinasi lanjutan pada umur tiga minggu, sedangkan pada ayam petelur pada umur tiga hari, empat minggu, tiga bulan dan selanjutnya tiap empat bulan sesuai kebutuhan. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan cara semprot, tetes (mata, hidung, mulut), air minum dan suntikan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan vaksinasi adalah
  • Vaksin segera diberikan setelah dilarutkan
  • Vaksinasi hanya dilakukan pada ternak yang benar-benar sehat
  • Hindari hal yang bisa menimbulkan stress berat pada ternak
  • Hindarkan vaksin dari sinar matahari langsung
  • Cuci tangan dengan detergen sebelum dan sesudah vaksin
Mengingat kerugian ekonomi yang ditimbulan oleh penyakit ND ini sangat tinggi maka jalan terbaik dalam menanggulaninya adalah dengan menjalankan program manajemen yang ketat berupa program vaksinasi dan sanitasi lingkungan yang baik guna menghindari penyakit ini sehingga keuntungan akan dapat lebih meningkat, juga melengkapi nutrisi yang diberikan kepada ayam, baik tepat jumlah maupun jenisnya meliputi : protein, mineral, vitamin, lemak dan energi. Nutrisi yang lengkap pada pakan ayam akan meningkatkan stamina tubuh ayam sehingga ayam tidak akan mudah terserang penyakit.

Wednesday, 13 May 2015

Penyakit Fowl Cholera atau Berak Hijau

Fowl cholera atau berak hijau adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella Multocida, bakteri ini bisa berkembang cepat pada kondisi kelembaban tinggi. Karen itu wabahnya sering muncul pada saat musim penghujan. Selain itu kondisi kandang yang kurang terjaga kebersihannya akan membuat penyakit ini mudah menular dan menyerang ayam.
Beberapa gejala yang muncul pada ayam apabila terserang fowl cholera adalah sebagai berikut
  • kotoran ayam berwarna hijau
  • ujung jengger berwarna biru kehitaman
  • keluar cairan dari mulut
  • kadang bisa sampai bengkak pada sambungan lutut sehingga ayam menjadi lumpuh
  • nafsu makan menurun
  • pial bagian bawah bengkak
  • jika komplikasi dengan snot atau korisa maka muka ayam akan bengkak kebiruan
Sistem Penularan
Penyakit ini mempunyai sifat penularan secara horizontal yaitu menular dari ayam satu keayam yang lain. Penularan ini bisa melalui tampat makan dan minum, petugas kandang yang berpindah dari kadang yang terkontaminasi penyakit ke kandang sehat, hewan liar seperti tikus dan burung, serta ayam sakit yang keluar dari kandang.

Selain dari media tersebut, pakan juga bisa menjadi media penularan penyakit ini. Penyimpanan pakan yang kurang baik, misalnya tempat penyipanan yang lembab tentu akan membuat bakteri penyebab berak hijau berkembang pada pakan. Apabila pakan yang sudah terkontaminasi diberikan ke ayam, tentu saja ayam tersebut bisa terserang penyakit berak hijau.

Cara Pencegahan
Langkah antisipasi yang bisa dilakukan adalah sanitasi kandang dan lingkungan sekitar. Kebersihan tempat makan, minum, lantai dan dinding selalu terjaga. Lakukan juga penyemprotan pada kandang dan peralatan dengan menggunakan antiseptik.
Bersihkan kotoran ayam sesering mungkin karena kalau sampai menumpuk membuat kandungan amoniak didalam kandang menjadi tinggi. Sirkulasi udara harus berjalan lancar supaya bakteri penyebab berak hijau tidak berkembang.
Berikan pakan yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan ayam. Kualitas pakan juga harus dijaga jangan sampai pakan yang diberikan terkontaminasi bibit penyakit atau jamur.

Pengobatan Penyakit
Ayam yang sakit harus dikarantina terlebih dahulu supaya mudah menanganinya. Pengobatan bisa diberiakan baik melalui minum maupun suntikan. Kandang tempat ayam terserang penyakit harus disemprot mengunakan antiseptik.
Obat yang bisa diberikan adalah obat yang mengandung antibiotika yang akan membantu ayam membunuh bakteri penyebab berak hijau. Antibiotika yang bisa diberikan antara lain furozolidon, coccilin, neo terramicyn, tetra atau meycomas. Selain itu juga bisa menggunakan preparat sulfat atau antibiotik noxal, ampisol atau inequil.

Friday, 8 May 2015

Kelumpuhan Pada Ayam

Salah satu penyakit yang sering muncul saat pemeliharaan ayam broiler adalah kelumpuhan. Penyakit ini banyak menyerang ayam yang berumur 1bulan keatas. Kelumpuhan bisa terjadi akibat faktor keturunan atau tatalaksana yang kurang tepat. Yang dimaksud tatalaksana disini adalah pemberian pakan dengan nutrisi yang kurang sempurna. Hal ini sering dijumpai karena peternak cenderung mengejar berat badan dalam waktu singkat dengan cara memberikan ransum yang mempunyai kadar karbohidrat dan lemak tinggi sementara kebutuhan mineral, protein dan vitamin-vitamin lainnya kurang diperhatikan. Padahal untuk membantu pertumbuhan tulang dan saraf banyak memerlukan mineral dan vitamin, sementara untuk pertumbuhan otot memerlukan banyak protein. Berikut ini beberapa hal penyebab terjadinya kelumpuhan,gejala klinis dan cara untuk mengatasinya


A. Penyebab kelumpuhan

  1. Kandungan nutrisi dalam ransum
      Kandungan lemak dan karbohidrat yang terlalu tinggi sedangkan kandungan mineral, protein, dan vitamin yang rendah sangat tidak sesuai dengan kebutuhan ayam. Hal ini hanya akan menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh ayam sedangkan pertumbuhan otot dan kerangka menjadi lemah.Akibatnya kaki ayam menadi lumpuh/lemah karena tidak kuat menahan berat badan yang terus bertambah.

  2. Adanya penyakit yang menyerang pada tubuh ayam
      Apabila tubuh ayam sudah terserang penyakit tentu saja penyerapan nutrisi dalam tubuh ayam menjadi terganggu. Akibatnya ayam tersebut mengalami kekurangan gizi yang diperlukan.

  3. Rachitis
     Rachitis pada ayam menunjukan gejala seperti paruh ayam menjadi lunak, kaki yang bengkok, gaya ayam berjalan kaku, tulang yang salah bentuknya, keseimbangan kurang sempurna, bulu kusam dan juga angka kemtian tinggi.


B. Gejala klinis dan cara mengatasi

  -Sendi pada kaki membengkak dan ayam malas berdiri
    Hal ini biasa terjadi ketika ayam berumur 2minggu karena ayam kekurangan unsur mineral. Akibatnya sendi kaki semakin membesar sehingga kaki menjulur kedepan/keluar dimana posisi sendi menahan alas lantai.
    cara mengatasi: Air minum atau ransum diberi meneral extra

  -Kaki sebelah kiri atau kanan menjulu keluar sebatas sendi akibat pertumbuhan sendi yang tidak sempurna
    cara mengatasi: Kurangi unsur-unsur seperti kahbohidrat dan lemak kemudian tambahkan unsur mineral seperti Ca, P dan D3.

   -Kedua kaki melebar kesamping kanan dan kiri
    Awalnya ayam nampak sempoyongan, jalan kaku, dan bahkan rebah. Hal ini terjadi karena ayam kekurangan unsur mineral seperti mangan, seng dan vitamin (A & B)
  -Keadaan kaki lemah
    Sering terjadi ketika ayam berumur 25hari keatas karena memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan tidak seimbang dengan kekuatan kaki yang menahan berat badan, akibatnya ayam menjadi lumpuh.
 cara mengatasi: tambahkan feed suplement vitamin dan mineral yang diperlukan kedalam ransum

Tuesday, 5 May 2015

Penyakit Koksidiosis

Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan disaluran pencernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini tentu saja menyebabkan kurang optimalnya proses pencernaan dan penyerapan nutrisi sehingga mengakibatkan pertumbuhan menjadi terhambat dan angka kematian (mortalitas) menjadi tinggi. Penyakit ini sendiri disebabkan oleh berbagai parasit protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria, awal dari infeksi koksidiosis adalah tertelannya ookista (semacam telur dari Eimeria) yang telah mengalami sporulasi (menghasilkan spora). Penyakit ini dapat ditularkan melalui anak kandang, peralatan kandang, ransum, air atau sekam yang telah tercemar.

Gejala klinis yang muncul apabila ayam terserang koksidosis adalah
  • sayap terkulai kebawah
  • mengantuk
  • bulu kasar (tidak mengkilat)
  • nafsu makan menurun
  • untuk yang sudah akut terjadi berak darah dan kematian
dari hasil bedah ayam yang terindikasi koksidiosis ialah sekum membesar berisi darah atau perkejuan bercampur darah, penebalan dinding usus yang disertai peradangan kataralis (bernanah) sampai haemorrhagis (berdarah) . Efek lain dari serangan koksidiosis adalah ayam menjadi rentan terhadap infeksi penyakit lainnnya.

Pengobatan untuk ayam yang terserang koksidiosis adalah dengan pemberian obat antikoksidia. Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya bisa ditekan dalam level rendah. Saat ini sudah banyak obat antikoksi yang diproduksi baik dari golongan sulfa/sulfonamide atau amprolium. Pengobatan biasanya dicampurkan kedalam air minum. Untuk mempercepat proses penyembuahan jangan lupa berikan suplemen vitamin A dan K.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk menanggulangi koksidiosis adalah

1. Pemberantasan ookista
    Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan kapur dan soda kaustik pada permukaan liter yang lembab dan basah. kedua bahan tersebut apabila larut dalam air atau media basah (sekam basah) dapat menimbulkan panas yang tinggi sedangkan ookista tidak tahan terhadap suhu panas  >55ºC.

 2. Memperbaiki manajemen pemeliharaan
     Perhatian suhu, kelembaban, ventilasi, kepadatan kandang serta kualitas liter/sekam. Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan ayam.

3. Memberikan koksidiostat
    Pemberian koksidiostat secara terus menerus pada ransum berfungsi untuk mengontrol dan menekan perkembangan koksidia sampai level rendah, contoh koksidiostat yang bisa diberikan adalah golongan ionofor. Beberapa pabrik pakan diketahui sudah menambahkan koksidiostat pada ransum yang diproduksinya, namun karena koksidiostat diberikan dalam waktu lama maka perlu dilakukan rolling koksidiostat yang diberikan. Jika tidak, koksidia akan resisten dan koksidiostat tidak akan mempan menangkal serangan ookista dalam tubuh ayam.

Friday, 1 May 2015

Mencegah dan Menangani Heat Stress Pada Ayam


akibat heat stress
Heat stress yang biasa mnyerang ayam bisasanya disebabkan oleh kondisi suhu udara lingkungan melebihi suhu normal (> 28oC) sehingga ayam tidak mampu untuk menyeimbangkan antara produksi dan pembuangan panas tubuhnya. Ayam dewasa lebih rentan terserang heat stress karena telah memiliki bulu yang sempurna sehingga mempersulit pembuangan panas tubuhnya. Selain itu, ukuran tubuh yang besar dapat menghasilkan panas tubuh lebih banyak. Ada beberapa faktor penyebab ayam mengalami heat stress diantaranya adalah:

1. Kepadatan yang kurang sesuai 

Kondisi kandang yang terlalu sempit akan mengakibatkan kompetisi dalam memperoleh oksigen semakin tinggi. Selain itu, kondisi kandang akan menjadi semakin panas karena secara normal ayam juga menghasilkan panas tubuh

2. Manajemen kandang yang kurang baik

Suasana didalam kadang terbuka (open house) tentuya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Hindari jarak antar kandang yang terlalu sempit atau dinding kandang yang bersebelahan dengan tebing karena bisa mengakibatkan sirkulasi udara kurang baik

3. Kandungan nutrisi yang tidak sesuai kebutuhan

Ransum yang mempunyai kandungan protein kasar berlebih bisa memperparah kasus heat stress, karena kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat maupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

4. Iklim

Saat musim kemarau, di daerah beriklim tropis, saat siang hari suhu lingkungan akan mencapai titik tertinggi dan kelembaban udaranya akan berada pada titik terendah (udaranya kering). Kondisi ini akan dirasakan oleh ayam sebagai suatu kondisi yang tidak nyaman atau ayam mengalami heat stress.

Beberapa faktor diatas adalah pemicu terjadinya heat stress pada ayam, sedangkan cara untuk mencegah terjadinya heat stress pada ayam adalah

  1.  Buatlah kandang dengan sirkulasi udara yang baik
  2.  Pilih bahan atap yang mampu mengurangi panas. Akan lebih baik menggunakan sistem atap monitor. Jika perlu tambahkan sistem hujan buatan di atas atap yang digunakan saat kondisi suhu panas. Dalam membuat kandang panggung usahakan mempunyai ketinggian sekitar 1,25-2m, karena dengan ketinggian tersebut mempunyai sirkulasi udara yang baik
  3. Perhatikan jarak antar kandang. Jarak antar kandang minimal 1 x lebar kandang (lebar kandang sebaik-nya tidak lebih dari 7-8 m)
  4.  Atur kepadatan kandang, misalnya 1 m2 untuk 15 kg ayam pedaging dan 8 ekor/m2 untuk ayam petelur umur 6-16 minggu
  5.  Sediakan air minum yang berkualitas dalam jumlah yang cukup
  6.  Berikan pakan dengan nutrisi yang sesuai dan dan merata dalam pembagiannya
  7.  Atur sistem buka tutup tirai kandang, sesuaikan dengan kondisi cuaca

Apabila heat stress masih menyerang ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengurangi dampak yang diakibatkan oleh heat stress tersebut
  •  Nyalakan fan atau kalau perlu tambahkan blower untuk mengatur sirkulasi udara dan berikan “hujan buatan” saat suhu lingkungan melebihi standar.
  •  Kurangi jumlah ransum yang diberikan pada saat kondisi kandang panas dan langsung berikan ransum saat suhu mulai menurun. Perlu diperhatikan jumlah ransum yang diberikan harus sesuai standar, hanya saja waktu pemberiannya yang diubah. 
  • Atur konsumsi air minum. Saat suhu sedang tinggi nafsu minum ayam meningkat drastis bahkan bisa sampai 50%, berikan air minum dengan kualitas yang baik dan jumlah yang cukup.
  • Kurangi kepadatan kandang sebesar 10% dengan memperlebar sekat
  • Berikan tambahan nutrisi seperti elektrolit dan vitamin.
 Sekian tips yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani heat stress pada ayam. Semoga membantu :-)

Friday, 24 April 2015

Penyakit Malaria Pada Ayam

Kasus penyakit malaria umumnya terjadi pada musim pancaroba, yaitu pada perubahan musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Penyakit ini juga termasuk musiman karena dipengaruhi oleh siklus perkembangbiakan vektor. Penyakit  ini akan semakin tinggi kejadiannya saat kondisi lingkungan mendukung bagi perkembangan nyamuk dan lalat selaku vektor penyakit ini. Populasi nyamuk atau serangga cenderung meningkat saat terjadi perubahan musim, dari musim hujan ke musim panas atau sebaliknya. Di musim hujan banyak air tergenang. Nyamuk dan lalat kemungkinan akan membawa bibit penyakit berkembang dan kemudian menularkan bibit penyakit tersebut ke ayam melalui gigitan serta akan berperan menjadi vektor atau agen penular ke ayam lainnya. Seringkali outbreak mulai terlihat saat musim kemarau tiba.

Gejala Penyakit Malaria Pada Ayam
Gejala klinis yang ditunjukkan adalah munculnya bintik-bintik merah di bawah kulit dan di permukaan kulit bahkan otot. Ayam terlihat sangat lesu dan sangat sering menggigil kedinginan. Feses akan berwarna kehijauan dan encer.

akibat malaria

Gejala yang terlihat pada ayam dapat dibagi dalam tiga bentuk yaitu: bentuk akut, bentuk kurang akut dan bentuk paralisis.
  1. Bentuk akut terlihat ayam meringkuk di sudut kandang, muka dan jengger bengkak, kondisi semakin buruk dan mati dalam waktu singkat dan pada pemeriksaan ulas darah 80% dari sel darah merahnya mengandung Plasmodium gallinaceum.
  2. Bentuk kurang akut ayam terlihat pucat pada muka dan jengger, kondisi lemah dan ada diare berwarna hijau.
  3. Bentuk paralisis tidak banyak dijumpai dan biasanya terjadi pada pada ayam yang sembuh dari serangan akut dan sudah diobati. Bentuk paralisis terjadi karena adanya hambatan pada buluh darah di otak yang berisi merozoit biasanya terjadi pada tahap eksoeritrosit dan ayam akan mengalami kematian karena sudah susah diobati. Gejala klinis lainnya adalah ayam sulit bernafas, anemia, nafsu makan menurun, kurus, bulu mengerut tidak teratur dan ayam mengalami depresi.
Bagi peternak yang ayamnya terserang malaria tentunya akan menimbulkan banyak kerugian, pertumbuhan terhambat, penurunan produksivitas daging yang menyebabkan FCR membengakak adalah akibat dari penyakit ini. Untuk kematian akibat penyakit ini bisa menyebabkan kematian sebesar 10-50% pada ayam. 

Pengobatan Pada Ayam Yang Terserang Malaria
Ada dua macam pengobatan untuk ayam yang terserang malaria yaitu dengan cara memberikan obat yang sudah tersedia ditoko-toko atau dengan meracik obat sendiri dengan tanaman-tanaman obat yang ada disekitar kita. Untuk membeli obat ditoko carilah obat yang khusus untuk malaria biasanya obat-obat untuk malaria mempunyai kandungan pyrimethamine dan sulfamonomethoxine. Sedangkan untuk meracik obat sendiri bisa menggunakan daun pepaya atau sambiloto.

Wednesday, 22 April 2015

Cara Penanganan Dan Pengobatan Herbal Ngorok Pada Ayam




Penyakit ngorok masalah serius yang ada pada ayam broiler, bahkan dapat memicu penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD). Bahkan jika ada kontaminasi bakteri E. Coli akan menyebabkan CRD Complex. Kantong udara akan menebal dan terdapat masa mengkeju pada daerah tersebut, juga pada rongga perut. Jantung dan hati akan diselimuti oleh selaput yang berwarna putih kekuningan. Penyakit ini menular dari ayam yang sakit ke ayam yang peka, dan ayam muda biasanya mempunyai kepekaan yang lebih tinggi. Adanya gangguan pernafasan akan menyebabkan asupan oksigen berkurang dan metabolisme menjadi sulit, sehingga pertumbuhan dan efisiensi pakan akan jelek. Kadar oksigen yang rendah akan membuat jantung bekerja lebih keras dan terjadi penumpukan cairan plasma di dalam rongga perut ayam, dan terjadi ascites.
Untuk mengatasi gangguan pernafasan ayam, kita perlu mencari penyebabnya. Pemberian antibiotik tidak akan membuahkan hasil jika tidak diatasi penyebab utamanya. Jika kondisi lingkungan jelek perlu diperbaiki disamping pemberian obat. Kualitas udara juga perlu diperhatikan, ventilasi diperbaiki untuk menghasilkan udara yang lebih bersih. Kelembaban yang rendah (< 50%) akan menyebabkan udara berdebu, perlu adanya spray air. Kelembaban ideal bagi ayam adalah 50-70%, jika diperlukan menggunakan fan. Litter yang basah atau lembab perlu dilakukan pergantian dengan yang lebih baru. Dan pembalikan litter perlu dilakukan teratur agar kadar amonia di dalam kandang tidak terlalu tinggi. Pemberian multivitamin terutama vitamin A dan C serta pemberian pakan yang berkualitas akan membantu mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak.
Cara pencegahan yang perlu dilakukan adalah melakukan manajemen pemeliharaan yang baik juga penerapan manajemen kesehatan. Program biosecurity secara ketat dengan penyemprotan desinfektan secara rutin untuk menekan bakteri patogen yang ada di kandang dan lingkungan sekitar. Program vaksinasi yang tepat dan sesuai waktu. Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi postvaksinasi yang dilakukan dengan jalan strain virus yang cocok, aplikasi vaksin yang benar dan tepat dan vaksin hanya dilakukan pada ayam yang sehat. Monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodi perlu dilakukan. Perlu pemberian antibiotik yang cocok dan dosis yang tepat pada awal kehidupan dan pada saat mendapat stress berat. Pemberian multivitamin secara rutin terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa saluran pernafasan ayam.
Jika langkah pencegahan dan penanganan seperti diatas sudah anda lakukan namun ngorok cekrek masih datang pada ayam broiler anda, anda bisa membeli obat yang ada ditoko peternakan. Carilah obat yang memiliki kandungan sulfadiazine,trimethoprim atau enrofloxacin, biasanya ketiga kandungan bahan tersebut cocok untuk mengobati ngorok. Tapi jika anda tidak suka menggunakan obat kimia disini saya akan memberikan sedikit solusi pengobatan alami untuk mengatasi ngorok.

1. Bawang Putih
     Bersihkan dahulu bawang putih dari kotoran yang menempel, blender/tumbuk bawang putih sampai halus kemudian campurkan kedalam air, untuk dosis sendiri biasanya 1siung/1liter. Selain untuk obat ngorok bawang putih juga berfungsi sebagai antibiotik bagi tubuh ayam.

2. Daun sirih + Bawang Putih
     Bersihkan kedua bahan tersebut terlebih dahulu, blender/tumbuk sampai halus kedua bahan kemudian campurkan kedalam air minum. Untuk dosisnya 1siung bawang + 1lembar sirih/1liter air minum.

3. Kunyit+bawang putih+daun pepaya
     Bersihkan semua bahan diatas terlebih dahulu, blender/tumbuk semua bahan sampai halus kemudian campurkan kedalam air minum. Campuran ketiga bahan tersebut juga bisa berfungsi untuk meningkatkan kekebalan ayam terhadap kolera, koksidiosis dan radang usus.

Sekian info dari saya, selamat mencoba....

Saturday, 18 April 2015

Mengatasi Berak Kapur/Pullorum

Pullorum atau berak kapur merupakan penyakit yang sangat menular pada ayam sering dikenal dengan nama berak putih atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar. Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu bertahan ditanah selama 1 tahun
Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.

Cara penularan penyakit berak kapur atau pullorum
Penularan penyakit Pullorum dapat melalui 2 jalan yaitu:
1. Secara vertikal
yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
2. Secara horizontal
terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.

Gejala klinis penyakit berak kapur atau pullorum
napsu makan menurun
feses (kotoran) kotoran berwarna putih seperti kapur
Kotorannya menempel di sekitar dubur berwarna putih
kloaka akan menjadi putih karena feses yang telah keringkering
jengger berwarna keabuan
mata menutup dan nafsu makan turun
badan anak ayam menjadi lemas
sayap menggantung dan kusam
lumpuh karena artritis
suka bergerombol

Perubahan patologi penyakit berak kapur atau pullorum
Pada kasus yang akut sering dijumpai pembesaran pada hati dan limpa dan kadang kadang sering diikuti omfalitis. Pada kasus kronis dijumpai abses pada organ dalam dan adanya radang pada usus buntu (tiflitis kaseosa) yang ditandai adanya bentuk berwarna abu-abu didalam usus buntu.

Diagnosis penyakit berak kapur atau pullorum
Isolasi dan identifikasi salmonella pullorum dapat diambil melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan pembiakan kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat diidentifikasi dengan penggumpalan darah secara cepat (rapid whole blood plate aglutination test).

Pengobatan penyakit berak kapur atau pullorum
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut. Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang bersifat kronis.

Pencegahan penyakit berak kapur atau pullorum
Ayam yang dibeli dari distributor penetasan atau suplier harus memiliki sertifikat bebas salmonella pullorum. Melakukan desinfeksi pada kandang dengan formaldehyde 40%. Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.

Friday, 17 April 2015

Pengobatan Corisa/Snot Pada Ayam

Penyakit ini sudah pasti sering dialami oleh para peternak unggas, korisa bisa menyerang unggas pada semua umur khususnya umur 3 minggu hingga masa panen atau produksi.
Korisa merupakan penyakit pernafasan yang dapat merugikan peternak karena akan menurunkan produksi telur, menghambat pertumbuhan bobot untuk pedaging, biaya pengobatan yang tinggi hingga meningkatnya angka kematian pada ternak.
Korisa disebabkan oleh bakteri Haemophilus paragallinarum, bakteri ini di luar induk semang akan mudah mati dan mudah diinaktivasi. Desinfektan yang efektif untuk membunuh bakteri ini antar lain iodine maupun ammonium quarterner dilakukan untuk sterilisasi kandang dengan penyemprotan.
Tanda khas serangan korisa antara lain sulit bernapas, adanya lendir atau kotoran dari hidung yang mula-mula encer dan berlanjut sampai kental seperti nanah, bau yang menyengat seperti telur busuk, muka bengkak terutama pada daerah sinus di bawah mata, mata berair seperti menangis yang lama kelamaan akan menutup dan diare.


PENULARAN :
Bakteri Haemophillus gallinarum hanya dapat bertahan diluar diinduk semang tidak lebih dari lebih dari 12 jam. Penularan dapat terjadi karena kontak langsung pada ayam sakit, petugas kandang dan peralatan kandang yang digunakan, udara,debu, pakan atau minuman yang tecemar bakteri hemophilus gallinarum.


PENCEGAHAN :
- Vaksinasi Coryza pada umur 1 - 2 minggu untuk unggas pedaging dan umur 6 - 8 minggu untuk unggas petelur dan pengulangan umur 16 - 18 minggu
- Desinfeksi kandang secara rutin dapat dilakukan dengan penyemprotan desinfektan yg mengandung iodine atau ammonium quartener setiap bulan dan penyemprotan kandang dengan probiotik dapat dilakukan setiap minggu sekali, bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan.



PENGOBATAN :
Ramuan jamu tradisional yang dapat digunakan:
Resep A
 Tepung beras padi 150 gram.
Kencur 100 gram, ditumbuk halus.
Jahe sebanyak 25 gram atau kurang lebih 1 jari tangan, diparut.
Bahan tersebut digilas dengan pipisan (lumpang) hingga halus dan tercampur merata. Ramuan ini dibentuk pil sebesar biji jagung, lalu dijemur hingga kering. Pil disuapkan dua kali sehari (pagi dan sore).
Resep B
Bahan: 5 ibu jari rimpang jahe di cuci bersih dari tanah yang melekat, biarkan dengan kulitnya lalu memarkan atau gepuk, 1 liter air, Gula batu atau gula aren 5 sm
Cara membuat: Rebus jahe dengan 1 liter air hingga mendidih, kurang lebih selama 15 - 20 menit. Setelah selesai, dinginkan, lalu saring. Tambahkan gula batu. Tambahkan 10 liter air, berikan sebagai air minum pada ayam.
Untuk mempercepat proses penyembuhan bisa memadukan dengan antibiotik Colibact lewat air minum diberikan bersamaan dengan Resep tsb atau Injeksi dengan Colibact Inj.